Dua Negara Pemilik Wisata Ganja

Coffee Shop di Belanda

Bicara tentang wisata? selalu terkait di dalamnya berupa alam dan keindahan. Bicara tentang ganja juga luas, menyimpan sejarah dan kebudayaan ribuan tahun lamanya. Wisata dan ganja? sebagian mungkin mengatakan ya dan juga sebaliknya. 

Akan tetapi jangan mencobanya di Indonesia dan untuk di beberapa Negara lainnya. Karena ganja adalah barang terlarang alias narkoba. Di negara ini, siapapun yang kedapatan memiliki barang tersebut akan dihukum pidana penjara minimal 4 tahun.

Terlepas dari argument apapun, wisata ganja sudah ada di luar negeri. Sumber terpercaya kami, Daily Mail menyebut salah satu negara itu adalah Jamaica yang katanya memiliki paket tour wisata ganja. Negara Jamaica dianggap familiar disandingkan dengan nama ganja. Termasuk sejarah grup musik, Negara asal Bob Marley and The Wailers ini, khususnya Bob Marley adalah seorang pengikut ratafarian dengan ritual menghisap tanaman ini pun berkait dengan nilai keleluhuran dan ketuhanan yang mereka percayai. Akan tetapi grup music ini legendaries dunia, dengan liriknya yang tajam dan kritis menyuarakan, memperjuangkan hak kemanusiaan rakyat Jamaica dan juga kemerdekaan bangsa Afrika lainnya terhadap sistem kapitalisme Amerika.

Di sumber kami tersebut mengemuka kata bahwa para petani di Jamaika membuka paket tur wisata ganja. Tur wisata ganja ini membawa wisatawan menjelajahi ladang-ladang ganja dan para pengunjungnya yang juga diajak menikmati ganja-ganja berkualitas tinggi seperti jenis purple kush dan pineapple skunk.

Terindah lagi, bagi para pecintanya akan diajarkan caranya mengisap ganja. Bahkan petani ganja sempat mengatakan wisatawan yang ingin merasakan paket tur ke kebun ganja, membayar dengan harga sebesar US$50 atau setara dengan Rp557.000.

Di Belanda

Selanjutnya, kita tahu ada Negara yang tidak asing di telinga kita akan legalitas ganja yaitu Belanda. Meski demikian, perjalanan sejarah kebijakan hukum Belanda terhadap kepemilikan juga ketat. Setelah dilegalkan tahun 1970, seorang usia dewasa hanya boleh memiliki tidak lebih dari 5 gram dan di atas itu bisa hukuman penjara.

Meskipun pada kenyatannya, telah lama sekali Negara kincir angin itu menciptakan adanya Coffee Shops, yang secara khusus melegalkan ganja laiknya alkohol yang bisa dikonsumsi di bar. Para penikmat ganja di Amsterdam diperbolehkan membeli ganja dan menikmatinya di tempat.

Melansir detiktravel, dikatakkan bahwa terdapat 250 Coffee Shops di Amsterdam dengan banyak nama, jam buka mulai pagi hingga larut malam. Namun, Coffe Shops tidak menjual alkohol. Usut punya usut, penjualan alkohol dan ganja di Amsterdam tidak boleh dijadikan dalam satu tempat.

Di Amsterdam menikmati ganja hanya boleh di Coffee Shops. Tetapi kenyataannya apabila saat malam, bisa terasa sekali untuk mencium baunya setelah dibakar saat kita berada di jalanan. Terlebih lagi, banyak oleh-oleh dari Amsterdam yang memiliki campuran ganja (meski sangat sedikit kandungannya). Ada cokelat, kopi sampai permen. Oleh-oleh tersebut berada di hampir seluruh toko suvenir di Amsterdam. Beberapa suvenir berupa kaos juga terang-terangan menulis Cannabis.