Terkait Virus Corona, Perlukah Kemenparekraf dan PHRI Bali Harap-harap Cemas?


Beberapa minggu belakangan ini negara di luar China mengonfirmasi telah terpapar virus corona, seperti diantaranya Italia, Iran dan Amerika dengan catatan 1 kematian. Bahkan, media massa dalam dan luar negeri terus meng-update berita tentang kasus dan korban dari virus asal Wuhan, Chian tersebut. 

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Sejauh berita ini diturunkan, Indonesia disebut-sebut belum terdampak virus Corona, namun argumentasi ini sulit dibantah dan menjadi polemik karena mungkin di Indonesia dianggap alat deteksi virus ini belum mumpuni. Padahal, sebagian teknologi ini sudah ada di Indonesia, yang mana diketahui Universitas Airlangga telah bekerja sama dengan Jepang dan telah mendapatkan alat pendeteksi virus yang berasal dari binatang itu.

Meski demikian, yang lebih penting adalah dampak perekonomian Indonesia dari virus corona terhadap berbagai sektor. Selain di sektor perdagangan, ada juga dari sektor pariwisata. Bahwa dari data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengabarkan terdapat tiga destinasi wisata domestik paling terdampak akan isu virus Corona. Tiga destinasi wisata itu adalah Bali, Manado, dan Kepulauan Riau.

Melalui sumber terpercaya yang kami dapatkan, Deputi Pemasaran Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Nia Niscaya mengatakan tiga destinasi itu memiliki dampak yang berbeda. Terutama Bali, menurutnya berdampak pada wisatawan mancanegara. "Kalau Bali itu dampaknya ke overseas (wisatawan mancangera) karena kita tahu Bali merupakan pilihan wisata mancanegara. Jadi tidak hanya wisatawan China saja, tapi juga lainnya," kata Nia.

Hilang 13 persen wisman China

Selanjutnya, untuk Manado, Nia menyebut dampak begitu terasa karena pasar wisatawan terbesar di sana berasal dari China. Tutupnya penerbangan dari dan ke China membuat destinasi wisata di Manado mengalami dampak paling besar.  "Hingga kini, data yang kami terima kita kehilangan 13 persen wisatawan China," ujarnya.

Sementara itu, untuk destinasi wisata Kepulauan Riau terbagi menjadi dua daerah yang terdampak isu virus corona, yaitu Bintan dan Batam. Nia menyebut Batam menyasar wisatawan Singapura, sedangkan Bintan menyasar wisatawan China. "Mereka, sudah pasti terdampak. Itu berdasarkan data BPS," lanjutnya.

Fokus untuk destinasi lainnya

Dengan begitu, Kemenparekraf selanjutnya akan berfokus pada destinasi wisata lain yang belum berdampak signifikan. Salah satu caranya dengan melakukan strategic partner lewat penerbangan dan hotel. Bersamaan dengan pernyataan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio mengatakan Kemenparekraf akan memberikan stimulus atau insentif bagi sektor pariwisata Indonesia yang terkena dampak isu virus corona.

Besaran diskon disebutkan akan ditetapkan secepatnya, dengan kisaran antara 25 sampai 30 persen ke destinasi-destinasi wisata di Indonesia, seperti Bali, Likupang, Sulawesi Utara, Bintan, Batam, Yogyakarta, Lombok, Labuan Bajo, dan destinasi wisata lainnya.

Pernyataan PHRI di Bali

Pengelola hotel dan restoran di Kabupaten Gianyar, Bali kini cemas dengan adanya dampak dari virus Corona di Tiongkok. Sebab bila penyebaran virus ini tidak segera selasai, kemugkinan besar akan berdampak pada turunnya minat wisatawan untuk berlibur ke Bali.

Disampaikan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restorant Indonesia (PHRI) Gianyar, Pande Mahayana Adityawarman. Seperti disebut sumber terpercaya kami, ia  menjelaskan sampai saat ini kunjungan dan okupansi wisatawan masih tergolong bagus. Khususnya untuk wisatawan Eropa, Australia dan India.

Meski demikian, ia mengaku bila tidak ada informasi membaik terkait virus corona dalam 1 sampai 2 bulan ke depan. Tidak menutup kemungkinan okupansi pariwisata di Kabupaten Gianyar akan menerima dampaknya. “Sekarang harap-harap cemas,” ujarnya.

Dia menyebut, meski tidak separah SARS, tetapi virus corona sudah memberi dampak ke seluruh dunia, karena penyebarannya yang cepat. “Kalau virus corona ini terus meningkat penyebarannya, pasti orang-orang juga akan memundurkan jadwal liburannya, dan lebih memilih untuk tinggal di rumah.”

Meskipun jangan sampai terjadi, ia menyebut, apabila kondisi semakin parah dan menurunnya tingkat kunjungan wisatan asing ke Bali, bisa-bisa terjadi PHK dalam jumlah besar. "Kita lihat dulu ke depan, kalau memang tidak membaik, kemungkinan (PHK) itu bisa terjadi,” katanya.

Seperti diketahui, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meningkatkan kesiagaan level risiko penularan dan risiko dampak dari virus COVID-19 untuk skala global menjadi sangat tinggi atau setara dengan China menyusul kasus baru per hari virus di dunia mencapai 1.027.

Berdasarkan laporan situasi harian resmi WHO per 28 Februari 2020, total kasus COVID-19 secara global mencapai 83.652 dengan 1.358 penambahan kasus baru. Sebanyak 331 kasus baru terjadi di China sehingga totalnya menjadi 78.961 kasus dengan 2791 angka kematian (44 kematian baru).

Sedangkan kasus terkonfirmasi baru di luar China sebanyak 1.027 kasus menjadi total 4.691 kasus di 51 negara dengan total 67 kematian (10 kematian baru). Sedangkan di Indonesia sempat disebutkan terdapat sejumlah 136 orang terpapar virus corona.

Diantaranya DKI Jakarta 35 orang, Bali 21 orang, Jateng 13 Orang, Kepri 11 orang, Jabar 9 orang, Jatim 10 orang, Banten 5 oang, Sulut 6 orang, Jogya 6 orang, Kaltim 3 orang, Sulsel 2 orang, Jambi 1 orang, Papua Barat 1 orang, NTB 2 orang, Bengkulu1 orang, Kalbar 1 orang, Kalteng 1 orang, Sultra 1 orang, Maluku 1 Orang, Sumbar 1 orang, Babel 1 orang, Sumsel 2 orang.

Tapi, hasil pemeriksaan 136 pasien dalam pengawasan virus corona menunjukkan bahwa belum satupun positif. Sehingga masyarakat tidak perlu panik berlebihan.