Pesona Lukisan Karya Widi. S. Martodiharjo (part1)


Di sebuah tempat nan sejuk dan sepi di wilayah Ubud, Bali tersimpan banyak sekali lukisan keren yang penuh makna di setiap goresannya. Lukisan itu milik seorang pelukis kenamaan Tanah Air yang bernama Widi. S. Martodiharjo.

Pada kesempatan yang baik itu, Moreschick mendapatkan waktu yang tepat untuk berbincang-bincang dengan Widi atau kami akrab menyapanya mas Widi. Perbincangan hangat terjalin bersamaan dengan menyeruput segelas kopi Bali. Memandang setiap lukisan di tempat Widi tinggal, bagi awam, pikiran rasanya akan penuh mutitafsir untuk mengartikan lukisan-lukisan miliknya.

Di setiap sudut di tempat tinggal pria kelahiran 10 Maret, Wonosobo, Jawa Tengah ini terdapat karya-karya lukisan yang begitu memesonakan. Hingga kepada Moreschick, pelukis yang mengawali pameran tunggalnya di Ganesha Galery, Seminyak, Bali tahun 2009 berjudul “Reborn” itu menjelaskan bahwa gaya melukisnya adalah drawing kontemporer. 

“Saya ingin melepaskan kebiasaan orang membuat drawing. Orang buat drawing itu identik dengan anatomi, dengan memindahkannya dengan ilustrasi drawing,” sebut Widi. “Saya lakukan itu karena saya dulu seorang illustrator yang suka dengan ilustrasi, seperti bikin kartun.”

Meninggalkan grafis
Tetapi kemudian, kebiasaan drawing di dunia desain grafis laiknya menggambar ala bentuk, ala benda ala manuisa yang ia putuskan untuk ia tinggalkan. Ia berjanji pada dirinya untuk menekuni kepandaian melukisnya bersamaan dengan ia memutuskan untuk berdomisili di Pulau Dewata. Ia berpikir harus berganti arah profesionalisme namun masih dalam konteks corat-coret.

“Menurut saya waktu itu drawing bisa masuk ke ranah seni rupa kontemporer, dan memang saya punya mimpi besar untuk keluar dari dunia grafis untuk masuk ke ranah fine art,” papar pria kelulusan Universitas Pasundan Bandung, Jawa Barat itu.

Percobaan awal mewujudkan mimpi Widi untuk menemukan karakternya adalah eksplorasi dari benda-benda yang tidak biasa dan tidak terpikirkan sebelumnya. Yakni kertas bekas. Ide ini muncul bersamaan dengan ia menggeluti dunia recycle.

Nah kemudian, coret-coretan atau lukisannya di atas media yang tidak biasa itu, hingga objeknya bahkan tidak berbentuk. Inilah yang dimaksud Widi, objek tak berbentuk dengan media tidak biasa. “Bukan karena tidak berbentuk kemudian kontemporer, tetapi lepas dari dunia ilustrasi drawing pada umumnya.”

Media kertas
Media kertas dan bolpoin adalah pengantar nama Widi S. Martodiharjo resmi menjadi seorang seniman lukis Tanah Air dan diawali di Pulau Dewata. Sebagian dari masyarakat banyak terheran, ‘kok bisa kertas dan bolpoin menjadi media lukis yang hasilnya bahkan begitu indah’. Jawabannya ternyata adalah usaha, kerja keras, disiplin dan keyakinan dari pria yang memutuskan hijrah ke Ubud, Bali pada tahun 2005 silam.

Dengan media kertas ini, ia memulainya dengan mengumpulkan kertas dari bekas struk, bekas koran, tiket dan melukisnya. Ini merupakan cara Widi sebagai bagian dari pengurangan sampah kertas. “Jangan bicara jagalah kebersihan sementara tetap menyampah di mana-mana.”

“Saya menjalankan ini (media kertas) benar benar serius. Itu yang saya maksud, seni rupa hari ini adalah saya tidak berbatas pada material. Saya memadukan banyak material,” sebut Widi.  “Sejak kuliah cita-cita utama saya memang saya ingin menjadi seniman, kalau dunia sebelumnya, saya terbatas dan mandek di ide dan dibatasi oleh monitor.”
Tafsir  
Seperti disampaikan di paragraf sebelumnya, mungkin bagi awam sulit membaca lukisan abstrak karya-karya pelukis terkenal Widi ini. Karena makna lukisan di tanganya memiliki arti yang multitafsir. Ia pun mengakui jika secara khusus setiap lukisannya memiliki cerita. “Saya tidak mengajak untuk semua penikmat karya saya harus mengerti, tapi bagaimana menikmati karya saya, jika mereka merasa lukisan saya keren itu cukup buat saya,” sebut pria berambut gondrong yang pernah menggelar pameran tunggal di Bentara Budaya Jakarta tahun 2016.

“Jika saya harus menjelaskan satu-satu di setiap karya saya itu terlalu memakan energy, sedangkan saat proses pembuatan karya saja saya sudah memakan banyak energy. Karya menurut saya karya lukis adalah multi tafsir, frame dari yang melihat karya saya bagaimana dia mengartikannya.”

Puncak karier
Usai rangkaian perjalanan Widi paska ia menetapkan lepas dari dunia grafis dan beranjak ke drawing kontemporer dan akhirnya pameran tunggal untuk pertama kali tahun 2009, ia yakin sudah menjadi seorang artis lukis. Hingga kini ia telah mengarungi benua Eropa sebagai buah dari kerja kerasnya selama ini ternyata bukan merupakan sebuah puncak karier baginya.

Pria yang juga pernah bermain teater semasa kuliahnya itu menganggap puncak karier adalah tidak ada. Namun yang ada adalah bagian dari proses seorang hingga berada di satu titik yang orang itu cari.

Misalnya saja bagi Widi, ketika ia sudah menjadi seniman kenamaan dan sudah diliput, ditulis kurator dan karya-karyanya dipamerkan. Ia tetap merasa bahwa puncak karier adalah pencapaian pada posisi yang ingin ia capai. “Saya ingin kertas memiliki kedudukan setara dengan kanvas, buat saya itu kesuksesan dan buat saya itu sudah pencapaian.”

Walaupun sudah terwujud, ia tidak merasa impiannya sampai disitu. Masih ada yang lebih penting dilakukan untuk menegakkan karya-karyanya di mata dunia. Hal penting itu adalah kolaborasi dengan seniman lain di luar seni rupa.

“Sekarang yang sedang saya lakukan saya berkolaborasi dengan sastra, jadi kesuksesan buat saya ketika karya saya bisa menginsirasi dan berkolaborasi dengan lainnya. Maju bersama, saling melengkapi dan saling menigisi,” sambungnya.
Kolaborasi sastra
Mengenai kolaborasi itu, ia pun menceritakan lebih jauh apa yang sedang digarapnya sekarang. Kepada Moreschick Widi menjelaskan ia sedang berkolaborasi dengan seorang penulis senior yang membuat novel berjudul "Pangeran Dari Timur" tentang Raden Saleh. Lalu, bagaimana seni lukis bisa dikolaborasikan dengan sastra? Ternyata dengan mengambil penggalan kata-kata dari novel tersebut dan dituangkan dalam penafsiran menjadi lukisan.

“Jadi semua karya itu dalam kolaborasi ini didasarkan atas narasi dari novel itu, bagaimana ketika raden saleh sudah sampai puncaknya, dia malah jadi bingung mau ngapain,” sebutnya. “Ketika bagaimana raden saleh sudah bisa menguasai Eropa, dia sudah bisa ke Jerman, Belanda dan berhasil, tapi malah selanjutnya dia mengadapi waktu yang membunuh buat dia, kemahsyuran. Digambarkan dengan singgasana, topi sebuah mahkota. Inilah yang saya lakukan, saya tidak membuat ilustrasi tapi saya menafsirkan.”

Bersambung...