Mengintip Tradisi Unik Imlek, dari Kembang Api sampai Angpao

GONG XI FA CAI! GONG XI FA CAI! GONG XI FA CAI! Selamat Tahun Baru 2020/Imlek 2571. Hampir di seluruh dunia, Imlek selalu dirayakan meriah dengan parade atau festival, barongsai, dan kembang api. Memang, Imlek bagi warga Tionghoa menjadi perayaan yang penting dan sakral. 

Berdasarkan penangalan Tionghoa, perayaan tahun baru imlek ini dimulai pada hari pertama bulan pertama atau disebut Hanzi dan berakhir dengan Cap Go Meh pada tanggal ke-15. Nah, hari terakhir perayaan imlek tersebut biasanya juga ditandai dengan bulan purnama.

Bagi mereka yang merayakan tahun baru Imlek ini, menjadi waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga dan teman-teman untuk makan bersama. Ada makna tertentu untuk setiap rangkaian tradisi yang dilakukan selama perayaan imlek ini, seperi Kembang Api, Barongsai, Makanan Wajib sampai Uang Angpao.

Petasan dan Kembang Api
Sudah menjadi tradisi warga Tioghoa, menyalakan petasan dan kembang api saat tahun baru imlek bermakna untuk mengusir roh-roh jahat. Berdasarkan legenda, asal-usul pembakaran petasan dan kembang api, alkisah setiap hari terakhir menjelang pergantian tahun akan muncul binatang buas atau Nian Show yang akan memangsa apa pun yang dijumpainya. Sehingga untuk menjaga keselamatan, pintu dan jendela ditutup rapat dan keluarga berkumpul di rumah. 

Namun, beberapa tahun baru biantang buas tidak pernah muncul kembali, sampai pada suatu tahun binatang buas tersebut muncul kembali dan memangsa semua makhluk yang ditemukan. Beruntung beberapa penduduk berhasil terhindar dari serangan binatang buas tersebut, karena kebetulan rumah-rumah penduduk tersebut sedang mengadakan pesta dengan menggantungkan petasan kertas berwarna merah dengan kata-kata bermakna arif dan bijak. Sejak itulah, warga Tionghoa menjadi petasan dan kembang api menjadi salah satu tradisi wajib saat merayakan Imlek.

Barongsai
Baronsai merupakan tarian kebudayaan Tionghoa yang dibawakan oleh penari dengan kostum singa, yang melambangkan kekuatan, kebijaksanaan, dan keunggulan, serta menciptakan suasana meriah dan bahagia. Uniknya, istilah untuk menyebut barongsai sebenarnya hanya ada di Indonesia.

Di negeri asalnya Cina, nama asli kesenian baraongsai ini adalah Wu Shi sedangkan Negara Barat menyebut barongsai sebagai lion dance. Tradisi kesenian dari barongsai menjadi cerminan akulturasi masyarakat Tionghoa di Indonesia. Kata Barong berasal dari kesenian boneka Bali yang dimainkan oleh manusia di dalamnya sedangkan kata Sai dalam bahasa Hokkian berarti singa.

Makanan Wajib
Hal lain dalam perayaan Imlek, tentunya hidangan makanan yang wajib dihidangkan dan disantap bersama keluarga besar. Biasanya, makanan yang disajikan pada perayaan Imlek ialah makanan yang memiliki makna seperti pembawa keberuntungan.

Beberapa makanan yang wajib dihidangkan saat imlek yaitu Ikan Pindang atau ikan Pindang Bandeng Utuh yang bermakna sumber rezeki dan hidup yang sukses sepanjang hidup, Kue Keranjang atau Nian Gao yang bermakna kekeluargaan dan lambang kemakmuran, Mie Goreng yang menjadi simbol umur panjang dan kesehatan yang baik sepanjang hidup sehingga menjadi pembawa rezeki dan kebahagian, Ayam atau Bebek Utuh yang melambangkan keutuhan keluarga, kesetiaan, dan ketaatan terhadap Sang Pencipta.

Kemudian ada lagi Yu Sheng, berupa makan seperti sayur-sayuran yang ditaruh diatas Ikan Salmon atau ikan Tuna dan dimakan dengan cara diangkat setingi-tinginya. Bermakna keberuntungan dan harapan yang tinggi. Makanan wajib yang terakhir adalah Permen dan Manisan yang dipercaya sebagai pembawa kemanisan sepanjang hidup.

Angpao
Dalam perayaan Imlek, tentunya tak lengkap dengan angpao atau Hanzi. Angpau dalam masyarkat Tionghoa dilambangkan dengan amplop berwarna merah. Arti warna merah tersebut adalah kebaikan dan kesejahteraan. Makna lainnya yakni warna merah bberarti gembira dan semangat yang akan membawa pada nasib baik bagi penerimanya.

Dalam kamus Mandarin, definisi dari angpau yang itu uang yang dibungkus kertas berwarna merah yang diberikan sebagai hadiah. Penerima Angpao biasanya anak-anak dan orang dewasa yang belum menikah. Selain itu, anak yang sudah menikah juga wajib memberikan angpao pada orangtuanya, demikian sebaliknya. Nah, jumlah uang yang diberikan dalam angpao tidak boleh mengandung angka 4,seperti Rp. 4000 dan seterusnya. Karena, warga Tionghoa percaya bahwa angka 4 seperti menyebutkan kata mati.

Selain itu, hindari jumlah uang angpao yang ganjil, karena jumlah ganjil dipercaya sebagai angka sial. Mereka yang memberikan uang anpao juga wajiba meunuliskan kata-kata doa yang berkaitan dengan kebahagian, kemkmuran, keberuntungan, kesehatan, dan panjang umur.