Garin Nugroho pada 2020 Beraksi dalam Judul Planet - Sebuah Lament

Setelah sukses dengan karya Setan Jawa, sebuah film bisu dengan gamelan orchestra, yang telah dipentaskan di berbagai ajang seni bergengsi dunia mulai dari Melbourne, Amsterdam, London, Glasgow, Singapura, dan Berlin, maestro seni Indonesia Garin Nugroho akan kembali dengan karya terbarunya. 

Pertunjukan berjudul Planet – Sebuah Lament yang berisikan doa pada alam dan jalan keselamatan hidup untuk mencintai alam ini akan ditampilkan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pada tanggal 17-18 Januari 2020 mendatang.

Pertunjukan karya terbaru Garin Nugroho yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, Arts Centre Melbourne, dan Asia TOPA ini berkisah tentang sebuah ratapan (lament) dalam nyanyian mencari sebuah planet dimana peradaban dituntut mencari pangan dan energi baru. Kisah dimulai setelah tsunami, hilangnya peradaban yang menyisakan seorang manusia yang mencari harapan. Pada akhir perjalanan, lahir sebuah planet baru lewat jalan panjang penebusan seusai tsunami. Sebuah perjalanan penebusan untuk mendapatkan kembali keseimbangan alam.

“Pertunjukan ini mengisahkan ratapan alam karena keserakahan manusia yang menghancurkan alam, era ketika bumi dipenuhi benda-benda perusak lingkungan dan menjadi monster yang tidak pernah mati. Sebagai konsep visual, pertunjukan ini akan berkolaborasi dengan perupa dari Jogjakarta, Samuel Indratma dan dinarasikan lewat paduan suara serta nyanyian ratapan yang menjadi kekuatan utama sebagai narasi maupun sebagai ekspresi,” ungkap Garin Nugroho, sutradara.
Mengusung perpaduan budaya dari Indonesia Timur (Melanesia), Garin Nugroho mengkombinasikan elemen pergerakan tubuh dari tradisi Nusa Tenggara Timur hingga Papua dengan gerak tablo dan tubuh kontemporer yang dikoreografi Otniel Tasman dan Boogie Papeda. Pertunjukan ini juga menampilkan para penari dari berbagai daerah, antara lain: Boogie Papeda, Douglas D’Krumpers, Pricillia EM Rumbiak dan Bekham Dwaa dari Papua, dan Rianto (Solo).

Gerakan ritmik dari para penari ini akan diiringi musik yang digarap oleh 3 komposer muda, yaitu Septina Layan, Taufik Adam, dan Nursalim Yadi Anugerah. Pertunjukan ini juga dilengkapi dengan lantunan suara indah dari Mazmur Chorale Choir asal Kupang yang dipilih melalui proses seleksi sejak akhir tahun 2018 yang lalu. Paduan suara yang juga menjadi juara World Choir Games 2014 di Latvia ini akan mengelola musik dari Flores, yang dalam kajian musik dunia disebut sebagai salah satu kekayaan musikal yang ada.

“Garin Nugroho tidak berhenti membuat terpukau akan beragam kreativitas, pikiran, dan sudut pandang yang dituangkan dalam karya-karyanya. Pertunjukan Planet – Sebuah Lament ini juga mengajak kita melihat alam yang semakin rentan oleh pengerusakan dan tema ini diangkat dengan indah dalam pertunjukan seni yang memadukan gerak tubuh, musik, dan vokal. Perpaduan budaya Melanesia yang diangkat oleh Garin Nugroho juga sekaligus dapat menjadi diplomasi kebudayaan dari Indonesia Timur dengan menyuarakan pesan perdamaian dan penyelamatan alam,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Kostum para pemain ini digarap oleh Anna Tregloan dari Australia yang sekaligus juga berperan sebagai scenographer dalam pertunjukan kali ini. Para pemeran utama mengeksplorasi kostum tradisional Indonesia Timur digabungkan dengan elemen kontemporer sedangkan paduan suara juga mengenakan kostum yang ditata khusus untuk menggambarkan ekspresi yang terjadi pada lakon di atas panggung.

Tiket pertunjukan yang akan digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pada tanggal 17-18 Januari 2020 mendatang ini bisa dibeli melalui loket.com dan Go-Tix dengan harga:
Platinum Rp. 1.000.000,
Gold Rp.700.000
Silver Rp. 450.000 dan
Bronze Rp. 250.000
Untuk pembelian tiket platinum dan gold ada promo akhir tahun diskon 10%. Selain dipentaskan di Jakarta, karya ini akan menjadi karya pembuka dalam ASIA TOPA (Asia-Pacific Triennial of Performing Arts) pada Februari 2020 mendatang di Melbourne, Australia.