Breaking

Thursday, 8 August 2019

Redwood Cafe Sajikan Kuliner Kearifan Lokal Arak Bali, Intip Yuk!



Nusantara kita punya kekayaan kuliner yang tidak hanya terbatas pada makanan saja, tetapi juga untuk minuman. Di beberapa wilayah di Indonesia, kita ketahui terdapat minuman khas yang sebetulnya merupakan bagian dari kekayaan budaya kita, yaitu minuman fermentasi yang diciptakan oleh para leluhur bangsa.

Tidak dipungkiri, perkembangan minuman fermentasi kini kian populer. Bahkan bukan hanya dinikmati pada acara budaya dan adat istiadat, tetapi juga telah dinikmati secara modern. Misalnya saja seperti Arak Bali, yang sudah awam menjadi bahan campuran cocktail di ratusan hotel yang ada di Bali.

Meski demikian, arak Bali bisa dikonsumsi di bar dan cafe yang berskala besar ataupun kecil. Seperti misalnya saja saat moreschick menyambangi bar & resto di kawasan Gatot Subroto, Denpasar Timur, yang bernama Redwood (IG @redwood.bali), tepatnya di jalan Seroja no 7, Denpasar. Di tempat ini menyajikan beragam rasa minuman yang punya bahan dasar arak Bali.

Pemilik Redwood yang ditemui moreschick kala itu adalah Ketut Nik Suriawan dan Putu Gede Angga Viyandana, dan perbincangan mengenai Redwood lebih lanjut bersama Angga. Kemudian Angga menyampaikan banyak hal mengenai Redwood, bermula dari konsep awal yang mengedepankan penjualan arak dengan banyak varian rasa, bersamaan dengan arak yang menurutnya telah dilegalkan pemerintah provinsi.

“Kita menjual Arak, di satu sisi karena sudah dilegalkan pemerintah daerah dan kita menjual dengan harga yang tidak terlalu tinggi. Bisa bersaing dengan yang lain, rasanya pun tidak diragukan dan kalau tak percaya, boleh mencobanya,”sebut Angga.

Karena rasanya yang tidak diragukan dan mampu bersaing bahkan untuk kelas internasional, seperti disebutkan Angga, Redwood menyajikan arak dengan varian rasa, ada yang original, ada mojito dan ada banyak lagi lainnya.

“Kita juga memadukan banyak konsep arak, karena kita di sini masih mengunggulkan minuman. Kalau untuk makanan, kita akui masih proses. Semuanya masih disiapkan dan belum ada tenaga yang belum disiapkan dengan maksimal,” papar Angga malam itu, di Redwood.  

Redwood bermula
Bermula dari adanya bar & resto ini lantaran pemilik Redwood, Wawan dan Angga (panggilan akrab) yang sebelumnya berprofesi juga sebagai wirausaha sudah mewacanakan untuk membuka cafe, meski belum memastikan konsep cafenya. Hingga disuatu waktu, mereka berdua diketahui tak jarang kumpul bersama sambil berbincang-bincang mengenai ide dan ‘ditemani’ arak. “Dan idenya juga tercetus dari situ. Akhirnya kita berpikir untuk mencoba bisnis ini (minuman) dan kita memulai mencari tempat.”

Mereka mengakui juga bila terciptanya cafe Redwood ini dengan sedikit persiapan tetapi cepat dalam merealisasikannya. “Nah ketemu lah di tempat ini, kita persiapkan hanya 3 minggu untuk launching cafe ini dan kita berjalan cepat dan jadilah cafe ini.”

Tak sendiri, Redwood pada prosesnya mendapatkan apresiasi dan support dari berbagai komunitas di Bali. Meski dengan sukarela teman-teman komunitas membantu meramaikan Redwood dengan mural dan musik. 

Di mana mural untuk beberapa hari dilakukan dan puncak acara mempersembahkan musik yang dibintangi oleh teman-teman komunitas reggae Bali, diantaranya Fredi KaYaman, Izzy Like Sunday Morning, Pulau Roti Reggae, Andreaded, Blues Marley, Arjacompo Music. Bersamaan itu, komunitas mural didukung juga oleh beberapa pelukis muda yakni Mangdud, Sastra dan Kledot dan masih banyak lainnya.

Tentang nama
Dalam kesempatan berbincang bersama moreschick, Angga menyampaikan tentang asal-usul dari pemilihan nama Redwood. Ia menjelaskan, pemilihan nama ini terkait hobi mereka yang suka dengan motor besar.

Dari hobi inilah, keduanya sempat menonton sebuah film tentang cerita motor besar yang lokasi film tersebut di Redwood, California, Amerika Serikat. “Film itu berseri panjang, dan kita terinspirasi dari situ,” sebutnya.

Dengan cetusan nama itu, ia mengakui membangun Redwood dengan kemampuan seadanya, semisal, untuk dinding kayu yang ada di Redwood diambil dari sisa kayu di proyek mereka. Sebelumnya perlu untuk diketahui, Wawan dan Angga merupakan kontraktor.
“Kami juga berjalan dengan semampunya di proyek kami yang ada banyak sisa kayu yang bisa dipakai itu, kita dipakai di sini,” papar Angga.

Harapan
Angga menyebutkan beberapa harga menu unggulan dari minuman dan makanan, untuk  makanan ada Yakiniku dengan konsep memasak sendiri dan bahan mentah sudah disediakan. Harga minuman arak dengan berbagai varian rasa hanya Rp30ribu dan makanan Yakiniku mulai dari Rp20ribu hingga paling mahal bir tower Rp200ribu “Kita juga adakan happy hour dari jam 6 sampai jam 8 malam.”

Mengenai konsep kedepannya, mereka akan mempertahankan konsep seperti ini dan selanjutnya pun akan menambah menu makanan. Terlebih, nantinya mereka akan merealisasikan konsep yang lebih besar lagi dan mencari tempat baru yang lebih leluasa. “Kita mau menggandeng teman-teman, masih menyatu dengan konsep sebelumnya.”

Kemudian, mereka akan memberikan sajikan musik, agar lebih leluasa dengan tempat dan lebih enjoy untuk para tamu. Adapun, target mereka tahun depan menggandeng teman-teman barber, tatto. “Harapan saya adalah, karena pemerintah sudah mulai melegalkan arak, ya semua orang tahu redwood dan menjadi tempat untuk anak muda.”  

No comments:

Post a Comment