Breaking

Monday, 19 August 2019

Pertemuan Para Sineas Muda dari Berbagai Negara di Bali: Film Dapat Menjembatani Perbedaan


Ada sebuah gerakan yang percaya bahwa film dapat menjembatani perbedaan. Gerakan itu bertajuk CINEMAWITHOUTWALL (CWW), mempersembahkan kegiatan Film Lab Internasional, yang menantang dengan mempertemukan sineas muda dari Indonesia, Malaysia, Myanmar, Korea Selatan, Taiwan, Makau dan Serbia untuk berkolaborasi dan belajar bersama warga desa Sangeh, Bali.

Sejumlah peserta yang berasal dari berbagai negara itu terbagi dalam 12 kelompok dan menghasilkan 12 film pendek dengan tema “Lokal Sebagai Bentuk Kemewahan Baru”. Sebelumnya, untuk sesama pembaca ketahui, moreschick turut disertakan sebagai media partner oleh gerakan ini, dan merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi moreschick tentuntya.

Kembali ke inti dari artikel ini, bahwa gerakan yang bertajuk CWW ini memiliki arti cinema tanpa batas. Seperti juga disampaikan oleh inisiator gerakan ini, Caecilia Sherina, sekaligus sineas muda Indonesia yang telah meraih beberapa penghargaan secara nasional dan internasional.

Dalam kesempatan berbincang bersama Moreschick, Caecilia mengatakan, Film bisa mengangkat isu yang kompleks menjadi lebih ringan dan menembus segala lapisan masyarakat. Menurutnya sebagai inisiator acara ini ia ingin film menjadi jembatan untuk bisa masuk ke sisi kehidupan manapun, termasuk salah satunya dengan cara menggelar acara ini di desa Sangeh, Bali.

“Kita mau film dapat masuk kemana saja, tanpa batas, makanya kita namakan CWW, dan yang kita harapkan dari desa Sangeh ini adalah akan ada lebih gairah, karena meskipun kebudayaannya sangat terjaga dan tidak ada masukan dari luar yang mungkin terasa monoton, maka itu, dengan adanya teman-teman dari sini akan menjadi lebih menarik dan mereka banyak bertanya tentang kebudayaan,” sebut Caecilia.

Pertemuan peserta

Kemudian, dalam kesempatan itupula ia menjelaskan awal mula perekrutan peserta CINEMAWITHOUTWALL ini. Caecil menyebut, para peserta dipertemukan melalui facebook grup untuk wadah pertama kali mereka berkenalan dan kemudian tim CWW mengacaknya. “Satu tim terdiri dari 5 orang bisa berada di Myanmar Indonesia atau Padang panjang.”

Kemudian, di Bali tepatnya di wilayah desa Sangeh para peserta itu berjumpa untuk pertama kalinya dan dilanjutkan sebagai masa orientasi mereka. Caecil menyebut, pihak panitia CWW memberikan waktu 4 hari untuk mereka membuat karya film dengan tema desa dan pertanian. Selama 4 hari itu, lanjut Caecil, para peserta harus benar-benar fokus membuat karya film dengan tema yang sudah ditentukan.

“Hanya 4 hari saja dan mereka benar-benar fokus untuk memulai semuanya, cari penentuan aktor, cari lokasi shooting dan langsung editing dan pada hari Sabtu mereka Langsung memutarkan filmnya,” ungkapnya.

Selanjtunya, hasil film dari para peserta itu dinilai oleh dewan juri dan juga kemudian penonton bisa memberikan feedback. Sehingga, karya mereka akan mendapatkan umpan balik dari masyarakat desa Sangeh.

“Teknik inilah yang kita butuhkan, untuk kita lihat berhasil atau tidak filmnya. Itu yang sangat kita ingin tahu setelah pemutaran film. Karena kebanyakan festival film belum memberikan feedback untuk filmnya sendiri, jadi sebenarnya filmnya itu berhasil atau tidak,” lanjutnya. 
Caecilia Sherina: Inisiator CWW
Kualitas film

Mengenai kualitas film, seyogyanya patut dipertanyakan dengan alasan karena mereka terdiri dari negara yang berbeda dan bahasa yang berbeda. Walaupun diutamakan dengan menggunakan bahasa Inggris, memungkingkan ada kesalahpahaman dalam kerja tim diantara 12 kelompok tersebut.

Tetapi hal ini ditampik oleh Caecil, menurutnya, para peserta sudah teruji dalam membuat film. Terlebih lagi alat yang digunakan pun sudah sangat maju. Meski demikian, Caecil menyebut yang terpenting yakni konten dan maksud dari isi film itu ditujukan untuk apa.

“Kita bicarakan film ini mau dibawa kemana dan mau diberikan kesiapa. Maka itu, 300 orang yang kita harapkan hadir pada nonton bareng di bioskop rakyat itu bisa memilih film kesukaan mereka dengan menggunakan scaning QR dan setelah di scan mereka langsung menuju sebuah website untuk kemudian mereka bisa memberikan aspirasi terhadap 12 film tersebut,” paparnya.

Selanjutnya terkait dengan hasil dari film ini, ia menjelaskan akan memberikan perhatian kepada kaum muda untuk membuka wawasan dan menjadi jembatan persatuan dengan dimulai dari pengenalan kebudayaan. Film yang maksimal berdurasi 10 menit ini benar menjadi jembatan yang mempertemukan masyarakat luas, antara masyarakat desa, kota dan bahkan luar negeri.

“Kita membuat satu tema lokal di bali yang diangkat untuk menjadi sesuatu yang keren agar sesama di antara kita lebih aware terhadap kearifan lokal bali.” 
Bersamaan dengan itupun, tak lupa ia menjelaskan keadaan sineas muda Indonesia saat ini. Menurutnya, sineas muda saat ini masih belum berani ‘out of the box’ dari pakem perfilman itu sendiri. Artinya, diperlukan riset mendalam dan fakta di lokasi agar berani membuat hal yang jauh lebih variatif.

“Sineas muda indonesia saat ini masih main di kotak masing-masing dan belum berani keluar dari estetika sendiri, jadi memang harus terjun langsung dan tidak bisa mereka belajar dari buku saja atau dari internet. Makanya kita bikin kegiatan ini untuk perkenalan dan membuat film langsung dengan turun ke desa-desa.” 

No comments:

Post a Comment