Breaking

Tuesday, 6 August 2019

Perpaduan Musik Tradisional dan Orkestra di Bulan Kemerdekaan



 Sebuah pertunjukan dengan konsep yang memadukan musik tradisi Indonesia dan orkestra bertajuk Untuk Indonesiaku persembahan komposer muda Wishnu Dewanta bersama Pepita Salim, dan Jessica Sudarta ditampilkan di panggung Auditorium Galeri Indonesia Kaya. 

Menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74, Galeri Indonesia Kaya menghadirkan ragam pelaku seni dan pertunjukan yang bertemakan Patriotik di akhir pekan di sepanjang bulan Agustus.

“Mungkin bagi sebagian masyarakat, istilah  orkestra atau chamber orchestra sangat kental dengan musik klasik, tapi kali ini kami akan menyajikan hasil eksplorasi dan kolaborasi bersama Pepita dan Jessica.  Seperti yang kita ketahui, banyak sekali lagu-lagu nasional di Indonesia dengan karakteristik yang khas, dari situlah kami mencoba mengaransemen kembali lagu-lagu tersebut dan menjadikan musik Indonesia semakin kaya. Kami berharap penikmat seni dapat menikmati dan merasakan kembali indahnya warisan budaya bangsa kita,” ujar Wishnu Dewanta, Komposer.

Pada pertunjukan Untuk Indonesiaku yang berlangsung selama sekitar 60 menit ini, Wishnu Dewanta membawakan lagu-lagu nasional yang diaransemen kembali seperti Talempong, Pak Ketipak Ketipung, Bungong Jeumpa, O Ina Ni Keke, Tanah Air, Nyiur Hijau, Melati Suci, Simfoni Raya, Negeriku, dan Indonesia Pusaka. Wishnu juga mempersembahkan lagu ciptaanya yang berjudul Untuk Indonesiaku.

Pertunjukan ini semakin indah dengan vokal soprano dari Pepita Salim, alunan indah harpa yang dipetik oleh Jessica Sudarta dan iringan Bellevoix Chamber Orchestra. Sebagai seorang komposer, Wishnu memiliki cita-cita untuk tetap konsisten dalam membuat karya yang dapat membawa kembali warisan budaya Indonesia serta mengeksplorasikan dalam bentuk komposisi baru, yaitu melalui format orkestra.

Ia yakin perpaduan musik tradisi Indonesia dan orkestra akan membuat warna yang baru dan menjadikan musik Indonesia semakin kaya. Selain aktif menjadi seorang komposer, orkestrator, dan pengaba, Wishnu bekerja sebagai penggubah musik di sebuah perusahaan animasi sejak tahun 2016.

Pada tahun 2019, ia diangkat sebagai ketua sebuah yayasan bernama Silanada yang bergerak di bidang seni pertunjukan. “Senang sekali dapat hadir dan tampil di Galeri Indonesia Kaya dan bisa bernyanyi bersama dengan para penikmat seni. Pementasan ini menjadi salah satu cara yang kami lakukan untuk menunjukan rasa cinta kami terhadap Indonesia. Kami harap pertunjukan ini dapat menjadi persembahan yang menghibur dan menanamkan semangat nasionalis bagi generasi muda,” ujar Pepita Salim.

Pepita Salim adalah seorang penyanyi soprano yang menyelesaikan pendidikan vokalnya di New England Conservatory, Boston (2018) jurusan Vocal Performance dibawah bimbingan Maryann McCormick. Seusai mendapat sarjana, Pepita berkesempatan berperan dalam musikal The King and I (2018-19), menjadikannya salah satu orang Indonesia yang berhasil mendapatkan sebuah peran dalam musikal Broadway.

Dengan musikal ini, Pepita melakukan tur Amerika Utara dan bertampil sebanyak 188 kali dalam 48 kota berbeda. Pepita berperan di dalam ensemble dan berlaku sebagai understudy untuk salah satu peran utama yaitu Tuptim.

Sedangkan Jessica adalah harpis muda asal Surabaya. Jessica memulai perjalanan musiknya dengan vokal dan piano di usia yang ke 4. Di usianya yang ke 13, Jessica pun diperkenalkan dengan harpa oleh ibu Grace Carla. Jessica pun melanjutkan studi harpanya dengan Lisa Gracia dan Rama Widi.

Selain itu, Jessica juga belajar harpa dengan Lauyee Yeung dan Dan Yu di Hongkong Harp Chamber. Di usianya yang ke 14, Jessica menampilkan Konsertino salam debut konser tunggalnya yang dihadiri oleh 1,000 penonton.

Jessica merupakan murid tahun ketiga di Peabody Conservatory of Johns Hopkins University mengambil mayor harp performance dibawah bimbingan Dr. Ruth K. Inglefield dan mayor musik edukasi. Hari-harinya selama studi di Amerika dipenuhi dengan mengajar serta tampil di berbagai konser.

Saat itu, tiga seniman muda dengan segudang prestasi mempersembahkan pertunjukan hasil eksplorasi warisan budaya dalam komposisi baru. Perpaduan musik tradisi dan orkestra ini akan membuat warna baru dan menjadikan musik tradisi Indonesia semakin kaya dan semakin dinikmati oleh masyarakat luas,” Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Adrian.

No comments:

Post a Comment