Breaking

Thursday, 8 August 2019

Film Lab Internasional Pertama dan Terbesar di Asia: "Cinemawithoutwall"


Film Lab Internasional pertama dan terbesar se-Asia untuk pertama kalinya diadakan pada 5-11 Agustus 2019, di mana 45 sineas muda dari Sabang sampai Merauke dan 6 negara lainnya akan berkumpul untuk membuat belasan film pendek di 5 desa asli yang berada di Bali selama satu minggu.

Dalam tajuk CINEMAWITHOUTWALL merupakan sebuah gerakan yang percaya bahwa film dapat menjembatani perbedaan. Lewat kegiatan Film Lab Internasional, gerakan ini menantang dan mempertemukan sineas muda dari Indonesia, Malaysia, Myanmar, Korea Selatan, Taiwan, Makau dan Serbia untuk berkolaborasi dan belajar bersama warga lokal. Mereka akan menghasilkan 12 film pendek dengan tema “Lokal Sebagai Bentuk Kemewahan Baru”.

Inisiator gerakan ini, Caecilia Sherina, sekaligus sineas muda Indonesia yang telah meraih beberapa penghargaan secara nasional dan internasional mengatakan, “Film bisa mengangkat isu yang kompleks menjadi lebih ringan dan menembus segala lapisan masyarakat. Film tidak peduli kasta, ras maupun agama dan memiliki kekuatan untuk menyatukan hati semua orang lewat pikiran serta emosi.

“Lewat film, orang bisa terhibur, terinspirasi bahkan tergerak untuk beraksi. Kami berharap kekuatan film yang positif ini dapat disadari dan dimaksimalkan baik oleh para sineas serta seluruh lapisan masyarakat. Tidak sebagai alat untuk menjatuhkan, melainkan sebagai alternatif mencari solusi permasalahan global.”

Kegiatan Film Lab Internasional yang dibuka secara gratis lewat pendaftaran dari universitas dan publik ini melibatkan 5 desa di Bali dengan berbagai budaya dan karakteristik berbeda. Dimulai dari pusatnya, Desa Sangeh, kemudian Desa Mengesta, Pelaga, Candikuning, dan Jungutan yang semuanya berlokasi di 3 kabupaten: Badung, Tabanan dan Karangasem.

Setelah seluruh film selesai dibuat di masing-masing desa, ke-12 film ini akan ditayangkan lewat konsep bioskop alam atau layar tancap di Taman Mumbul, Sangeh yang akan diapresiasi oleh 5 juri, yakni Deborah Gabinetti (pendiri BALINALE - Bali International Film Festival).

Fransiska Prihadi (direktur program MINIKINO), Sastha Sunu (editor dan dosen Institut Kesenian Jakarta), Devina Sofiyanti (penulis skenario dan dosen Universitas Bina Nusantara), dan Dr. Deny Tri Ardianto (filmmaker dan dosen UNS Surakarta) serta dihadiri oleh 300 warga lokal yang mayoritas belum pernah ke bioskop dan beberapa turis internasional dalam balutan pesta rakyat.

Film-film ini kemudian juga akan dibawa berkeliling ke desa-desa lainnya, serta masuk ke universitas, sekolah dan area publik (hotel, restoran, coworking space) selama 1 tahun.

Gerakan sinema tanpa batas ini berharap film dapat menjembatani pemahaman, baik dari desa ke kota, Timur ke Barat, muda ke tua, Indonesia ke dunia, hingga sebaliknya.

CINEMAWITHOUTWALL saat ini dinaungi Yayasan Parama Anak Bangsa yang juga banyak berkarya dalam pertanian dan pengembangan petani muda di Pulau Bali. Yayasan ini mendukung anak bangsa Indonesia agar berani menjadi agen perubahan dunia. 

No comments:

Post a Comment