Breaking

Tuesday, 9 April 2019

Pameran Seni Berkeliling Jogjakarta, Data dari Arsip Nasional




Materi pameran seni rupa atau seni lintas medium lainnya sejauh ini sudah lazim menggunakan arsip nasional. Arsip nasional bahkan mutlak menjadi syarat sebagai rujukan data faktual bahwa telah terjadi suatu peristiwa dalam rentang waktu tertentu atau lazim disebut sejarah. 

Data dari arsip nasional memiliki fungsi kontekstual, selain untuk pemikiran dasar atas pernyataan dalam pameran kepada khalayak luas dari sebuah peristiwa yang diangkat sebagai tema.

Misalnya saja arsip filem, terdapat banyak bagian-bagian terkait yang berhubungan langsung dengan kultur filem tersebut. Beberapa unsur-unsur yang terkait itu diantaranya poster filem, informasi penayangan, pencatatan terhadap pengalaman menonton, hingga dokumentasi personal dari orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Kesemuanya ini memiliki signifikansinya sendiri untuk dihadirkan dalam sebuah pameran. Kultursinema selalu berusaha memberikan penawaran lain terhadap penggunaan arsip dalam pameran. Penawaran ini berdiri pada anggapan bahwa arsip sebagai material faktual, perlu dikaji kembali dan dintrepertasikan ulang, baik bentuk maupun konteksnya, sesuai dengan kondisi mutakhir dan narasi yang diangkat.

Ada cukup banyak pertanyaan ketika arsip sudah kami dapatkan, seperti: bila arsip tersebut berupa teks, siapa yang menuliskan teks itu, bila arsip itu berupa objek visual atau audio-visual, siapa yang melakukan perekaman, atas kepentingan objek tersebut diarsipkan, lembaga apa yang melakukan pengarsipan hingga apa saja proses yang dilalui oleh objek tersebut sebelum berakhir ke muara lembaga
pengarsipan.

Di Indonesia sendiri, lembaga yang menyimpan arsip yang berhubungan dengan filem dan kultur yang melingkupinya adalah ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia), Sinematek Indonesia dan Perpusnas (Perpustakaan Nasional). Lembaga-lembaga tersebut cukup banyak menyimpan arsip-arsip filem yang sejujurnya belum banyak dipamerkan dan dikaji lebih dalam.

Kultursinema berupaya menginterpretasi arsip dan memberi nilai artistik yang berbanding lurus dengan tema pameran yang coba diangkat. Sehingga saat penonton masuk ke dalam pameran, yang dialaminya bukan hanya sekedar melihat arsip mentah seperti melihatnya di lembaga arsip, tapi ada proses transformasi bentuk yang dilakukan oleh tim Kultursinema sehingga arsip itu memiliki penyataan artistik yang coba diangkat dalam pameran.

Pameran arsip seperti Kultursinema juga merupakan siasat untuk menyebarkan arsip-arsip tersebut ke publik. Beberapa arsip memang cukup sulit diakses oleh publik, terlebih arsip-arsip yang tidak berada di Indonesia. Tiap arsip yang kami angkat di pameran melalui proses negosiasi dan pertimbangan bahwa informasi tersebut penting untuk dipamerkan, yang lalu kami harapkan bisa menjadi diskursus baru tentang sinema dan kesejarahannya di Indonesia.

Tahun ini kami membuat pameran keliling di Jawa karena melihat Jawa adalah pusat perkembangan kultursinema di Indonesia. Selain itu konteks pameran keliling ini juga merujuk pada usaha sinema di masa awal yang mencoba mendekati audiens dengan membawa arsip itu ke ruang-ruang tempat publik bertemu.

Pameran Keliling Kultursinema akan dilaksanakan di beberapa tempat, yaitu pada  -11 Maret 2019 di Orbital Dago, Bandung, pada 3-7 April 2019 di Kedai Kebun Forum, Yogyakarta, pada 24-28 April 2019 di C2O Library and Collective, Surabaya, dan pada 1-5 Mei 2019 di Komunitas Hysteria, Semarang.

[PAMERAN]

Kedai Kebun Forum, Yogyakarta

3-7 April 2019

11.00 – 19.00 WIB

——

[FORUM KULTURSINEMA]

"Ruang Ruang Menonton dan Arsip Filem"

3 April 2019, 19.00-21.00



"Penulisan Sejarah dari Arsip Filem"

5 April 2019, 19.00-21.00



"Reproduksi dan Representasi Arsip Filem"

7 April 2019, 19.00-21.00

——

[PEMUTARAN FILEM]

"Jagoan Lokal, Bandit Kolonial"

4 April 2019, 19.00-21.00

Matjan Berbisik (The Whispering Tiger), Tan Tjoei Hock, 1940, 60 menit



6 April 2019, 19.00-21.00

Gagak Item (Black Crow), Joshua Wong dan Othniel Wong, 1939, 27 menit (film excerpt)



6 April 2019, 19.00-21.00

Serigala Item (The Black Wolf), 1941, 38 menit (dari 87 menit)

——

Pameran, diskusi, dan penayangan gratis dan terbuka untuk umum.

No comments:

Post a Comment