Breaking

Monday, 14 January 2019

Batik Tulis Mendunia dan Cara Masyarakat Urban Memperluasnya



Sebagai orang Indonesia yang mengenal  kebudayaannya dengan baik, pasti mengetahui batik tulis, seni asli karya dari budaya Jawa di Indonesia yang telah lebih dari berpuluh-puluh tahun lamanya. Batik tulis adalah sebuah kerajinan tangan yang mempunyai nilai seni yang sangat tinggi. 

Kata “batik”, berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: “amba”, yang berarti “menulis” dan “titik” yang berarti “titik”. Pada 2 Oktober 2009, secara resmi Batik tulis ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Di Indonesia, batik tulis dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit. Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (sejarawan Indonesia) percaya bahwa tradisi batik tulis adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua.



Untuk di pulau Jawa, banyak wilayah memproduksi batik tulis yang kemudian sebagian masyarakat urban di kota besar pun memperluas penyebaran batik tulis. Salah satu desa yang menghasilkan batik tulis berkualitas nomor satu adalah desa Jarum, Bayat, Klaten, Jawa Tengah.

Misalnya saja, perluasan batik tulis ini dilakukan dengan menjualnya pada penyuka bahkan pecinta batik juga bersomisili di kota-kota besar Indonesia, berbanding lurus dengan harga per kain batik yang diketahui minimal Rp350 ribu.

"Keistimewaannya adalah batik tulis asli ini corak warnanya sebagian menggunakan pewarna alam," sebut Opiek, seorang pecinta batik yang juga memiliki toko batiknya bernama 'Maritza Batik'.

Menurut Opiek, kehebatan karya-karya batik tulis sebagai bentuk kepedulian terhadap warisan budaya. Terlebih, desa Jarum juga menjadikan dirinya sebagai desa wisata, hingga banyak sekolah-sekolah di kota-kota besar dan di daerah yang mengunjungi Desa Jarum sebagai edukasi wisata.



"Jarum, Bayat juga merupakan desa wisata batik. Beberapa sekolah dari luar daerah termasuk sekolah dari Jabodetabek juga sering ke Jarum untuk wisata batik, melihat proses pembuatan batik," sambungnya.

Batik tulis awalnya memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak batik tulis hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik tulis pesisir menyerap berbagai pengaruh dari luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya para penjajah.

"Untuk warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh masyarakat Tionghoa, dan mereka juga mempopulerkan corak phoenix."

Eropa mengambil minat lebih kepada batik tulis, dan hasilnya adalah corak bebungaan, seperti bunga tulip dan benda-benda yang dibawa oleh penjajah termasuk warna-warna kesukaan mereka seperti biru, ungu, dll.

Tetapi, Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan dan artinya masing-masing.

No comments:

Post a Comment